“Bukan Sekadar Dana Desa! Desa Cilame Bangkitkan Swadaya Warga, Stimulan 153 RT dan 25 RW Rp 178 Juta Menjadi Bukti Gotong Royong

Bandung Barat  – WarnaJembar.com // Pemerintah Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, terus mendorong tumbuhnya kembali semangat gotong royong, swadaya, serta kepedulian masyarakat terhadap lingkungan melalui program stimulan kegotongroyongan dan keswadayaan masyarakat.

Program tersebut bukan sekadar kegiatan pembangunan fisik, tetapi juga menjadi upaya Pemerintah Desa Cilame untuk menggali dan menghidupkan kembali budaya kebersamaan yang sejak lama telah melekat dalam kehidupan masyarakat.


Kepala Desa Cilame, Aas Anshor, mengatakan, semangat gotong royong sebenarnya bukan sesuatu yang baru bagi masyarakat Desa Cilame. Nilai kebersamaan tersebut telah menjadi bagian dari budaya masyarakat dan perlu terus dipertahankan di tengah perkembangan zaman.

“Pada dasarnya kegiatan program stimulan kegotongroyongan dan keswadayaan masyarakat ini bukan hal baru. Kita menggali potensi dan budaya yang sudah mengakar di masyarakat, khususnya semangat gotong royong dan swadaya,” ujar Aas.

Menurutnya, Pemerintah Desa Cilame sebelumnya juga telah berupaya membangun kepedulian masyarakat melalui berbagai kegiatan. Salah satunya melalui program Cilame Nyanding Resik, yang diarahkan untuk meningkatkan kepedulian warga terhadap kebersihan, kesehatan, keindahan dan penataan lingkungan.

Antusiasme masyarakat dalam kegiatan tersebut kemudian menjadi salah satu pertimbangan Pemerintah Desa Cilame untuk mengembangkan program stimulan yang cakupannya lebih luas.

Jika sebelumnya kegiatan lebih banyak diarahkan pada kebersihan lingkungan, kini stimulan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari pembangunan jalan lingkungan, drainase, pos ronda, posyandu, sarana ibadah, sumur warga, lapangan voli hingga balai warga.

“Melihat antusiasme masyarakat, Pemerintah Desa Cilame kemudian mencoba meningkatkan program ini. Bukan hanya kebersihan, tetapi juga bagaimana infrastruktur lingkungan yang menjadi kebutuhan warga dapat dibangun secara bersama-sama,” jelasnya.

Aas menilai, pola pembangunan berbasis gotong royong memiliki nilai penting karena masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pembangunan.

Hal tersebut sekaligus diharapkan dapat meningkatkan rasa memiliki terhadap hasil pembangunan. Dengan demikian, fasilitas yang dibangun melalui swadaya masyarakat maupun dukungan stimulan pemerintah dapat dijaga dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan nilai-nilai budaya kebersamaan dan kekeluargaan yang mulai menghadapi tantangan di tengah perubahan kehidupan masyarakat.

Baca Juga:  Aep Nurdin: 4 Pilar Kebangsaan adalah Komitmen yang harus dijaga Bersama

Aas menyinggung bahwa sebelumnya masyarakat juga telah mengenal berbagai program pemberdayaan, termasuk program nasional pemberdayaan masyarakat. Berbagai kegiatan tersebut pernah memberikan dampak terhadap pembangunan lingkungan masyarakat.

Namun, seiring berjalannya waktu, sejumlah fasilitas hasil pembangunan mulai mengalami kerusakan dan kebutuhan pembangunan lingkungan terus bertambah. Karena itu, diperlukan kembali pola yang mampu menggerakkan masyarakat untuk membangun lingkungannya secara bersama-sama.

“Harapannya, di samping melestarikan nilai-nilai budaya, kebersamaan dan kekeluargaan, program ini juga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk bersama-sama membangun lingkungannya sendiri,” katanya.

Rp178 Juta Disiapkan untuk Menggerakkan Swadaya Warga

Desa Cilame memiliki wilayah pelayanan masyarakat yang cukup besar, dengan 153 RT dan 25 RW. Untuk mendorong partisipasi warga, Pemerintah Desa Cilame memberikan stimulan sebesar Rp1 juta untuk setiap RT dan Rp1 juta untuk setiap RW.

Dengan jumlah tersebut, total stimulan yang disiapkan mencapai sekitar Rp178 juta.

Dana tersebut bersumber dari bagian hasil pajak dan retribusi daerah yang dialokasikan Pemerintah Desa Cilame untuk mendukung program kegotongroyongan masyarakat.

Tidak berhenti pada pemberian stimulan, Pemerintah Desa Cilame juga memberikan penghargaan atau reward bagi wilayah yang dinilai memiliki tingkat swadaya dan partisipasi masyarakat tinggi.

Reward tersebut menjadi bentuk apresiasi sekaligus pemacu agar masyarakat semakin aktif berkontribusi dalam pembangunan lingkungannya.

Selain stimulan berbasis RT dan RW, program juga diarahkan untuk mendukung kebutuhan pembangunan lingkungan dengan nilai yang lebih besar, termasuk jalan lingkungan yang dapat mencapai hampir Rp50 juta, balai warga, sumur warga, pembangunan masjid hingga sarana olahraga seperti lapangan voli.

“Tujuannya bukan semata-mata soal uang, tetapi bagaimana stimulan ini mendorong warga untuk menumbuhkan kesadaran dan kepedulian terhadap kebutuhan serta kepentingan lingkungan mereka sendiri,” tegas Aas.

Mekanisme Dibuat Sederhana, Warga Wajib Berswadaya

Sementara itu, Koordinator Lapangan Stimulan, Indra, menjelaskan bahwa pelaksanaan program diawali dengan sosialisasi kepada RT dan RW yang menjadi sasaran kegiatan.

Baca Juga:  Pemdes Pasirhalang menyalurkan Insentif, Ketua RT dan RW juga Linmas Sebagai Wujud Fasilitasi dan Penghargaan Dari Pemerintah Desa

Tim secara bertahap melakukan sosialisasi kepada 153 RT dan 25 RW. Setelah sosialisasi, masyarakat membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) serta membuat berita acara kesepakatan mengenai bentuk swadaya yang akan diberikan.

Setelah persiapan selesai, RT atau RW dapat melaporkan kepada tim mengenai waktu pelaksanaan kegiatan. Tim monitoring kemudian turun langsung ke lapangan untuk melihat proses pelaksanaan sekaligus memastikan kegiatan berjalan sesuai mekanisme.

“Setelah sosialisasi, dibentuk KSM dan dibuat berita acara swadaya masyarakat. Ketika RT sudah siap melaksanakan kegiatan, mereka melaporkan kepada kami kapan waktunya, kemudian tim monitoring turun langsung ke lapangan,” terang Indra.

Menurutnya, bentuk swadaya masyarakat tidak harus selalu berupa uang. Kontribusi warga dapat diberikan dalam bentuk tenaga, pikiran, material maupun konsumsi selama kegiatan berlangsung.

Yang terpenting, masyarakat terlebih dahulu menunjukkan komitmen dan partisipasinya. Setelah swadaya terkumpul dan kegiatan siap dilaksanakan, dana stimulan diberikan pada saat pekerjaan berlangsung.

Tim juga membantu RT dan RW dalam urusan administrasi dan pertanggungjawaban kegiatan. Format serta dokumen yang dibutuhkan disiapkan agar masyarakat tidak mengalami kesulitan dalam menyusun laporan.

“Swadaya masyarakat kita nilai semuanya. Bisa berbentuk uang, tenaga, pikiran maupun konsumsi. Setelah swadaya terkumpul, dana stimulan baru diserahkan pada hari pekerjaan tersebut,” jelas Indra.

Bisa Menjadi Model bagi Desa Lain

Program yang dikembangkan Desa Cilame ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat setempat, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain dalam membangun lingkungan dengan mengedepankan partisipasi masyarakat.

Konsepnya sederhana: pemerintah memberikan stimulan, sementara masyarakat menjadi penggerak utama melalui semangat swadaya dan gotong royong.

Dengan pola tersebut, anggaran pemerintah tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi pemantik agar potensi masyarakat dapat bergerak lebih besar.

Indra mengatakan, efektivitas program akan terus dievaluasi. Jika terbukti memberikan manfaat dan mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat, program tersebut diharapkan dapat kembali dianggarkan pada tahun berikutnya.

“Kita evaluasi terlebih dahulu efektif atau tidaknya program ini bagi warga. Kalau memang efektif, manfaatnya terasa dan antusias masyarakat tinggi, mudah-mudahan bisa kita anggarkan kembali pada tahun berikutnya,” ujarnya.

Baca Juga:  Sinergitas TNI-POLRI Gelar Patroli Bersama Di Beberapa Titik Wilayah Kecamatan Lembang

Kades Cilame Ajak Warga Terus Bergerak

Kepala Desa Cilame Aas Anshor menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat, terutama para ketua RT dan RW yang ikut menyukseskan program tersebut.

Ia mengajak seluruh warga untuk menyambut program stimulan dengan semangat kebersamaan karena manfaat akhirnya akan kembali dirasakan oleh masyarakat sendiri.

“Terima kasih kepada seluruh warga masyarakat, para RT dan RW. Sambutlah program ini karena benar-benar menyentuh kebutuhan lingkungan dan masyarakat. Mari senantiasa berpartisipasi membangun lingkungan karena lingkungan yang nyaman pada akhirnya memberikan kenyamanan bagi kehidupan masyarakat itu sendiri,” pungkasnya.

Melalui program tersebut, Desa Cilame menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu harus bertumpu pada besarnya anggaran. Ketika pemerintah mampu menjadi pemantik dan masyarakat bergerak dengan semangat gotong royong, kebutuhan lingkungan pun dapat dikerjakan secara bersama-sama.

Semangat inilah yang diharapkan dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain di Bandung Barat untuk kembali menghidupkan kekuatan gotong royong sebagai modal utama pembangunan masyarakat.

Ketua RW 23 Desa Cilame, Ratno Wibowo, mengatakan program ini memang dirancang tidak besar secara nominal, tapi efeknya langsung ke kebersamaan.

“Ini program gotong royong dan kebersamaan warga seluruh wilayah Desa Cilame. Stimulan 1 juta per RT dan 1 juta untuk RW tujuannya sederhana: menghidupkan lagi semangat warga agar mau kumpul, bergerak, dan membangun bersama,” ujar Ratno.

Menurutnya, dengan adanya stimulan ini warga jadi tergerak mencari dana tambahan secara swadaya. “Memang nilainya tidak besar, tapi dampaknya terasa. Hasilnya banyak fasilitas yang diperbaiki, ada bangunan baru, ada saluran baru,” tambahnya.

Ratno juga menekankan pentingnya transparansi dalam pengelolaan dana. Setiap RT wajib membuat berita acara dan SPJ agar warga tahu persis penggunaan anggarannya. Saat ini 8 RT di RW 23 sudah selesai administrasi, sementara 4 RT lainnya masih dalam proses.

“Program ini mungkin berbeda dengan desa lain. Di sini Pemerintah Desa langsung terjun ke masyarakat. Stimulannya kecil, tapi efek kebersamaannya besar,” pungkasnya. (An/Red)

Tinggalkan Balasan