Bandung Barat – WarnaJembar.Com // Tujuh tahun perjalanan Saung Maggot Bandung Barat menjadi bukti konsistensi sebuah gerakan kecil yang kini berdampak besar. Di bawah kepemimpinan Asep Saefulloh, selaku ketua sekaligus pendiri, Saung Maggot yang bermarkas di RW 11 Desa Bojongkoneng, Kecamatan Ngamprah, terus tumbuh sebagai penggerak ekonomi kerakyatan sekaligus solusi nyata dalam pengolahan sampah organik.
Puncak milad ke-7 kali ini ditandai dengan lomba liwet antar kelompok warga RW 11. Acara sederhana namun sarat makna itu disambut antusias, terutama oleh kaum ibu.
Ragam kreasi dekorasi dan penyajian hidangan membuat suasana semakin meriah. Asep sendiri mengaku terharu ketika melihat perhatian warga yang bahkan memajang foto dirinya bersama Camat Ngamprah, anggota dewan, dan kepala desa.
“Saya benar-benar terharu dan berterima kasih. Kreativitas ibu-ibu ini luar biasa. Harapannya, kegiatan ini bukan hanya seremonial, tetapi langkah nyata untuk mempererat kebersamaan sekaligus menghidupkan UMKM di RW 11,” tutur Asep.
Ke depan, Saung Maggot dirancang sebagai pusat edukasi dan pelatihan pengolahan sampah. Setiap tamu yang berkunjung nantinya diarahkan membeli konsumsi dari UMKM setempat alih-alih membawa makanan sendiri. Dengan begitu, perputaran ekonomi lokal bisa terus bergerak seiring dengan tumbuhnya kesadaran lingkungan.
“Saya ingin RW 11 jadi contoh bagi wilayah lain di Ngamprah bahkan di Kabupaten Bandung Barat. Dengan semangat sauyunan, kita bisa membangun dari lingkungan terkecil,” tambahnya.
Saat ini Saung Maggot memiliki 55 anggota yang tersebar di sejumlah kecamatan. Meski kesibukan sehari-hari membuat sebagian anggota tak selalu hadir, kontribusi mereka dalam mengolah sampah rumah tangga tetap terasa nyata.
Asep menilai milad bukan sekadar perayaan, melainkan refleksi perjalanan perjuangan. Ia mencontohkan, jika kemerdekaan bangsa diraih dengan pengorbanan, maka kini warga bisa mengisi kemerdekaan dengan karya nyata seperti pengelolaan sampah yang berdampak ekonomi dan lingkungan.
“Bagi saya, ini tanah kelahiran yang wajib saya jaga marwahnya. Meski sederhana, gerakan ini bisa mengangkat harkat martabat warga RW 11. Bahkan pemerintah kini mulai memberikan perhatian nyata,” ungkapnya.
Ia pun berharap kolaborasi dengan pemerintah semakin erat. Menurutnya, penyelesaian masalah sampah membutuhkan sinergi semua pihak melalui konsep pentahelix melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, media, dan dunia usaha.
“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Hadirnya pemerintah dalam setiap kegiatan sudah menjadi dukungan besar bagi kami,” tutupnya. (Red)