Cilame — Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cilame menanggapi serius keluhan yang berkembang di masyarakat terkait aroma kurang sedap pada olahan ayam yang didistribusikan kepada penerima manfaat.
Keluhan tersebut disampaikan oleh sejumlah guru dan orang tua murid, dan telah diterima langsung oleh pihak pengelola dapur.
Pengelola SPPG Cilame menegaskan bahwa sejak awal pihaknya selalu terbuka terhadap setiap laporan, baik kritik maupun saran. Hal tersebut dipandang sebagai bagian penting dari proses evaluasi dan perbaikan layanan, khususnya pada masa awal operasional.
“Memang kami sudah menerima laporan dari guru dan orang tua. Kami terbuka terhadap masukan apa pun, baik komentar baik maupun kurang baik, karena itu menjadi bahan evaluasi bagi kami, khususnya Dapur SPPG Cilame,” ujar Arif Aulia Akbar. Senin 19 Januari 2026.
Ia menjelaskan, seluruh proses pengolahan makanan di dapur SPPG sejauh ini telah mengikuti petunjuk teknis (juknis) yang berlaku, mulai dari penerimaan bahan baku, penyimpanan, hingga pendistribusian makanan.
Daging ayam yang diterima dari pemasok langsung melalui proses penyortiran ketat, kemudian disimpan di dalam freezer dengan standar yang telah ditetapkan.
Meski demikian, pihaknya tidak menutup kemungkinan adanya faktor lain yang menyebabkan munculnya bau, seperti proses pengolahan bumbu atau teknik memasak.
“Itu semua akan kami telusuri.
Apalagi laporan dari orang tua menyebutkan bahwa sebelumnya tidak ada masalah, dan hanya terjadi pada hari ini saja,” tambahnya.
Untuk diketahui, pasokan ayam di dapur SPPG Cilame berasal dari beberapa pelaku UMKM lokal.
Setiap bahan baku yang masuk tetap melalui proses seleksi guna memastikan kualitas dan kelayakan konsumsi.
Saat ini, SPPG Cilame masih berada pada tahap awal operasional, dengan masa berjalan sekitar satu minggu.
Pada tahap awal tersebut, layanan baru menjangkau sekitar 600 penerima manfaat, yang mayoritas berasal dari jenjang TK dan SD, serta satu SMP. Ke depan, cakupan layanan akan terus dievaluasi dan dikembangkan secara bertahap.
Arif menegaskan, pihaknya berkomitmen untuk tidak menutup-nutupi persoalan apa pun dan siap menampung aspirasi dari seluruh elemen masyarakat, khususnya warga Cilame.
“Harapan kami, kejadian serupa tidak terulang kembali. Kami ingin layanan SPPG ini terus membaik dan benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah Taman Kanak-kanak Lutfiyyah, Widiyarti Astuti, menyampaikan pihak sekolah langsung mendatangi dapur SPPG Cilame setelah menerima keluhan dari wali murid.
“Hasil pertemuan hari ini, aroma ayam masih ditelusuri. Dugaan sementara karena penggunaan bumbu ketumbar yang terlalu banyak, bukan karena ayamnya busuk,” ungkap Widi.
Menurutnya, anak-anak cenderung sensitif terhadap aroma rempah yang terlalu kuat. Pihak SPPG pun telah menyampaikan permohonan maaf dan berkomitmen untuk menyesuaikan racikan bumbu agar lebih ramah bagi selera anak-anak.
“Ke depan akan lebih berhati-hati, terutama dalam penggunaan bumbu. Kami akan terus memantau agar menu MBG tetap aman, layak, dan disukai anak-anak,” pungkasnya. (Red)






