Bandung Barat – WarnaJembar.com // Polemik yang sempat menyita perhatian dalam kegiatan reses Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Tati Supriati, akhirnya berujung damai.
Ketegangan yang terjadi antara awak media dengan Irwan, suami legislator dari Fraksi Golkar itu, kini diselesaikan secara kekeluargaan melalui komunikasi terbuka dan mediasi.
Insiden yang terjadi pada 17 April 2026 itu sempat memicu suasana kurang kondusif di lokasi kegiatan. Perbedaan persepsi di lapangan membuat hubungan kedua pihak memanas. Namun situasi berangsur mencair setelah dilakukan klarifikasi serta dialog yang melibatkan semua pihak terkait.
Sebagai bentuk tanggung jawab moral, Irwan bersama Tati Supriati menyampaikan permohonan maaf kepada awak media atas dinamika yang sempat terjadi. Langkah itu dinilai menjadi titik balik penting dalam meredakan ketegangan sekaligus memulihkan hubungan baik antara insan pers dan pihak penyelenggara kegiatan.
Permintaan maaf tersebut mendapat respons positif dari kalangan wartawan. Sikap terbuka dan itikad baik yang ditunjukkan dinilai menjadi contoh penyelesaian persoalan yang mengedepankan komunikasi, bukan konfrontasi.
Proses perdamaian ini juga tidak lepas dari peran MQ Iswara yang turut menjadi penengah. Dalam keterangannya, ia menyampaikan permohonan maaf secara pribadi maupun mewakili partai kepada awak media, khususnya yang berada di lokasi saat insiden berlangsung.
Menurutnya, meski persoalan tersebut bukan sepenuhnya merupakan kesalahan anggota dewan, tanggung jawab moral sebagai representasi publik tetap harus dijaga. Ia pun menegaskan media memiliki posisi strategis sebagai mitra demokrasi yang tidak bisa dipisahkan dari fungsi pelayanan publik.
Sikap tersebut mendapat apresiasi dari para jurnalis yang menilai penyelesaian damai ini menjadi contoh positif bagaimana relasi antara pejabat publik dan media seharusnya dibangun—berlandaskan saling menghormati, profesionalitas, dan keterbukaan.
Kini, kedua belah pihak sepakat menutup polemik tanpa memperpanjang persoalan. Situasi yang sempat memanas disebut telah kembali kondusif dan justru menjadi momentum memperkuat sinergi antara legislatif dan insan pers.
Sebagai agenda resmi penyerapan aspirasi masyarakat, kegiatan reses memiliki peran strategis dalam demokrasi. Dalam konteks itu, kehadiran media bukan hanya peliput, tetapi juga jembatan informasi yang menghubungkan kerja-kerja wakil rakyat dengan masyarakat luas.
Hingga Selasa (21/4/2026), kondisi di lapangan dilaporkan telah sepenuhnya normal. Semua pihak berkomitmen menjaga komunikasi yang sehat serta memperkuat kolaborasi demi kepentingan publik.
“Persoalan selesai, hubungan kembali baik, dan ini menjadi pelajaran penting bahwa komunikasi adalah kunci meredam konflik,” ujar salah satu pihak yang terlibat dalam proses perdamaian. (An/Red)






