Bandung Barat – WarnaJembar.Com // Sebanyak 250 chef dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul dalam agenda komunitas SPPG Pangauban di kawasan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.
Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam mendorong peningkatan kualitas kuliner nasional, khususnya pada segmen makanan terjangkau bagi masyarakat luas.
Kegiatan tersebut digagas oleh Hendrik, owner SPPG Pangauban, yang menyampaikan bahwa pertemuan ini merupakan bagian dari upaya menyuarakan dan mendukung program Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan visi Indonesia Emas.
Salah satu fokus utama adalah menghadirkan menu makanan dengan harga Rp10.000 hingga Rp8.000 yang tetap berkualitas, higienis, dan bergizi.
Menurut Hendrik, stigma bahwa makanan murah identik dengan kualitas rendah perlu diubah. Ia menegaskan, melalui kolaborasi dengan chef profesional baik dari dalam negeri maupun luar negeri menu sederhana dapat diolah menjadi sajian yang layak dan bernilai tinggi.
“Banyak yang sudah mencoba langsung, termasuk rekan media. Menu dengan harga Rp10 ribu hingga Rp8 ribu ternyata bisa berkualitas jika dikelola secara profesional,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, para chef yang hadir berasal dari berbagai latar belakang, termasuk industri perhotelan dan praktisi kuliner berpengalaman. Mereka turut berkontribusi dalam meracik dan menyajikan menu yang menjadi contoh konkret dari konsep makanan terjangkau berkualitas.
Di sisi lain, Hendrik juga menanggapi sorotan publik terkait viralnya aksi “joget” yang sempat ramai di media sosial. Ia menyampaikan permohonan maaf jika hal tersebut menimbulkan persepsi yang kurang tepat, sekaligus menegaskan bahwa tidak ada niat untuk melecehkan pihak mana pun.
“Saya serahkan penilaian kepada masyarakat. Tidak ada maksud lain selain ingin program ini terus berjalan dan berkembang,” katanya.
Ia juga menyoroti maraknya praktik penyediaan makanan murah yang tidak memenuhi standar, yang dinilai dapat merugikan masyarakat. Oleh karena itu, melalui kegiatan ini, para chef ingin menunjukkan bahwa kualitas tetap bisa dihadirkan meski dengan harga ekonomis.
Dengan pengalaman lebih dari 19 tahun di bidang kuliner, Hendrik bersama komunitasnya berkomitmen untuk terus mendorong inovasi pangan berbasis kerakyatan. Ia berharap program ini tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat, termasuk bagi para pekerja di sektor kuliner, terutama menjelang Hari Raya.
Pertemuan ratusan chef ini pun menjadi bukti bahwa sinergi antar pelaku kuliner dapat menjadi kekuatan besar dalam mendukung pembangunan nasional melalui sektor pangan yang berkualitas dan terjangkau. (An)






